Sandikala di Bali: Antara Mitos Lontar Kuno dan Penjelasan Medis Saat Senja

Mengenal Sandikala di Bali, tradisi senja yang dikaitkan dengan mitos Batara Kala dan lontar kuno, serta penjelasan kesehatan dan keselamatan.(Ilustrasi)

DENPASAR, Nusainsight.com - Saat matahari mulai tenggelam, masyarakat Bali mengenal waktu yang disebut Sandikala. Pada waktu peralihan siang menuju malam ini, orang tua biasanya mengingatkan anak-anak agar segera pulang dan tidak berkeliaran di luar rumah. Tradisi tersebut bukan sekadar larangan turun-temurun, tetapi juga menyimpan pesan tentang kewaspadaan dan keselamatan.

Sandikala kerap dikaitkan dengan cerita mistis, kekuatan niskala, hingga sosok Batara Kala. Namun, di balik kepercayaan yang diwariskan leluhur, terdapat pula penjelasan dari sisi kehidupan sehari-hari yang menarik untuk dipahami.

Sandikala merujuk pada waktu peralihan menjelang malam, ketika cahaya matahari mulai meredup. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, momen ini memiliki makna tersendiri karena dianggap sebagai waktu yang perlu disikapi dengan kehati-hatian.

Sejumlah cerita tradisional menghubungkan Sandikala dengan kekuatan niskala dan sosok Batara Kala. Dalam narasi yang berkembang di masyarakat, anak-anak maupun orang dewasa diingatkan agar tidak berkeliaran, melamun, atau bermain di tempat sepi saat senja.

Lontar kuno seperti Kalatatwa dan Siwagama juga kerap disebut dalam pembahasan mengenai pandangan spiritual masyarakat Bali. Meski demikian, penafsiran khusus mengenai Sandikala, termasuk klaim tentang terbukanya batas alam manusia dan gaib, perlu merujuk pada teks asli beserta kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, larangan keluar rumah saat senja dapat menjadi pengingat untuk menjaga diri, menghormati waktu, serta berkumpul bersama keluarga.

Di luar kepercayaan spiritual, waktu senja memang menghadirkan perubahan kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah berkurangnya cahaya alami yang dapat memengaruhi kemampuan mata melihat objek dengan jelas.

Ketika kondisi jalan mulai remang-remang, pengendara dan pejalan kaki perlu meningkatkan kewaspadaan. Objek, kendaraan, maupun orang yang melintas bisa lebih sulit terlihat, terutama di jalan yang minim penerangan. Karena itu, menyalakan lampu kendaraan dan mengurangi kecepatan menjadi langkah penting untuk mencegah kecelakaan.

Perubahan suhu saat sore menuju malam juga dapat memengaruhi kenyamanan tubuh. Namun, anggapan bahwa udara dingin secara langsung membuat daya tahan tubuh menurun atau menyebabkan masuk angin tidak dapat dianggap sebagai kepastian medis. Menjaga tubuh tetap hangat, beristirahat cukup, dan menerapkan pola hidup sehat tetap menjadi langkah yang disarankan.

Dengan demikian, tidak tepat jika seluruh larangan Sandikala dianggap memiliki dasar medis yang sama. Kepercayaan spiritual dan penjelasan ilmiah memiliki pendekatan berbeda, meskipun keduanya dapat menjadi bahan refleksi tentang pentingnya menjaga keselamatan.

Sandikala menjadi salah satu bagian dari tradisi yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Bali mewariskan pesan melalui cerita, kepercayaan, dan kebiasaan sehari-hari.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini dapat dimaknai sebagai pengingat agar masyarakat lebih waspada saat senja, khususnya ketika kondisi pencahayaan mulai berubah. Orang tua juga dapat memanfaatkan momen tersebut untuk mengingatkan anak-anak tentang keselamatan di jalan dan pentingnya pulang tepat waktu.

Pada akhirnya, memahami Sandikala tidak harus berhenti pada perdebatan antara mitos dan fakta. Menghormati warisan leluhur sekaligus memahami penjelasan ilmiah secara kritis dapat membantu masyarakat menjaga tradisi tanpa mengabaikan keselamatan.(NI 01)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال