Sering Disalahartikan, Ini Makna Sugihan Jelang Hari Raya Galungan


Umat Hindu di Bali bersiap menyambut Hari Raya Galungan dengan melaksanakan tradisi pembersihan lahir batin melalui perayaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali.(pixabay/jo vanel)

DENPASAR, Nusainsight.com - Menjelang perayaan Hari Raya Galungan, ketenangan magis mulai menyelimuti Pulau Dewata seiring dengan dilaksanakannya dua ritual penting yang kerap disalahpahami oleh masyarakat luas. Banyak yang mengira bahwa ritual Sugihan Jawa hanya diperuntukkan bagi umat keturunan Jawa, sementara Sugihan Bali khusus bagi warga asli Bali. Anggapan keliru tersebut kini diluruskan oleh para tokoh adat, yang menegaskan bahwa kedua hari suci tersebut merupakan satu kesatuan paket pembersihan total bagi seluruh umat Hindu sebelum memasuki puncak kemenangan Dharma.

Rentetan ritual ini dimulai pada Kamis Wage Wuku Sungsang dengan pelaksanaan Sugihan Jawa. Berdasarkan pakem sastra agama, kata "Jawa" di sini sejatinya berasal dari kata "Jaba" yang berarti luar. Dengan demikian, Sugihan Jawa merupakan momentum sakral untuk menyucikan Bhuana Agung atau alam semesta. Pada hari ini, umat Hindu secara serentak membersihkan lingkungan tempat tinggal, pekarangan rumah, hingga kawasan suci Pura agar terbebas dari energi negatif.

Keesokan harinya, tepat pada Jumat Kliwon Sungsang, ritual berlanjut pada Sugihan Bali. Bertolak belakang dengan makna etnis, kata "Bali" dalam konteks ini berakar dari kata "Wali" yang bermakna dalam atau kembali suci. Ritual kedua ini difokuskan sebagai sarana penyucian Bhuana Alit, yaitu diri manusia itu sendiri. Umat diajak untuk melakukan introspeksi mendalam serta membersihkan pikiran, perkataan, dan perbuatan dari segala bentuk kekotoran hati.

Kombinasi kedua ritual ini ibarat proses pembersihan total secara lahir dan batin. Sugihan Jawa bertindak sebagai pembersih ruang fisik di luar tubuh, sedangkan Sugihan Bali berfungsi menyetel ulang kondisi kejiwaan manusia di dalam tubuh agar terhindar dari penyakit hati. Melalui keselarasan pembersihan makrokosmos dan mikrokosmos ini, umat Hindu di Bali diharapkan dapat menyambut Hari Raya Galungan dengan hati yang bersih, damai, dan penuh kegembiraan.(NI 01)


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال