DENPASAR, Nusainsight.com - Pernahkah Anda melihat kesibukan luar biasa di seluruh pelosok Bali padahal hari raya Galungan belum resmi tiba? Suasana riuh dan penuh warna ini ternyata bersumber dari sebuah tradisi penting bernama Hari Penyajaan Galungan. Tepat dua hari sebelum perayaan puncak Galungan, umat Hindu di berbagai daerah di Bali serentak memulai persiapan besar-besaran untuk menyambut hari kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan).
Hari Penyajaan yang jatuh pada hari Senin (Soma Pon Dungulan) menjadi momentum krusial bagi masyarakat Bali untuk mempersiapkan diri, baik secara lahir maupun batin. Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas warga yang mulai meningkat sejak pagi buta. Di setiap rumah, terlihat anggota keluarga bahu-membahu membagi tugas demi kelancaran hari suci tersebut.
Aktivitas utama dalam Hari Penyajaan ini berfokus pada pembuatan sarana upakara atau banten. Kaum perempuan biasanya berkumpul di area halaman rumah untuk merangkai janur dan buah-buahan, sementara kaum pria berbagi tugas membersihkan area suci keluarga yang dikenal sebagai sanggah atau merajan. Tidak hanya itu, hiasan khas juga mulai dipasang untuk mempercantik lingkungan rumah.
Di antara seluruh rangkaian kegiatan, pembuatan dan pemasangan penjor menjadi aktivitas yang paling mencuri perhatian masyarakat maupun wisatawan. Penjor sebuah bambu melengkung tinggi yang dihias indah dengan janur, kain, serta hasil bumi merupakan simbol stana naga basuki sekaligus bentuk rasa syukur mendalam umat manusia atas segala anugerah kemakmuran yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
Uniknya, pelaksanaan tradisi ini tidak seragam di seluruh Bali. Berdasarkan hukum adat setempat atau yang disebut dresta, setiap desa memiliki aturan dan kebiasaan tersendiri. Ada beberapa desa adat yang sudah mulai memasang penjor secara megah pada Hari Penyajaan ini, namun ada pula wilayah lain yang baru mendirikannya keesokan hari, tepatnya pada Hari Penampahan Galungan.
Meskipun terdapat perbedaan tata cara di setiap desa adat, hal tersebut tidak mengurangi kekhusyukan masyarakat. Hari Penyajaan Galungan bukan sekadar ritual fisik semata, melainkan esensi penting yang mempererat tali kebersamaan, gotong royong, dan menjaga kelestarian tradisi leluhur Bali yang sarat akan makna spiritual.(NI 01)
