Ini Larangan yang Harus Diperhatikan Wisatawan Saat Berkunjung ke Bali

Ketahui berbagai larangan di Bali bagi wisatawan, mulai dari etika di pura, Nyepi, hingga larangan menginjak sesajen agar tetap menghormati budaya lokal.(Pixabay/lilimey)

DENPASAR, Nusainsight.com - Pulau Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai wilayah yang menjunjung tinggi adat, budaya, dan nilai spiritual masyarakatnya. Setiap wisatawan yang datang diimbau memahami berbagai larangan dan etika lokal agar kunjungan tetap nyaman sekaligus menghormati kearifan setempat.

Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah keberadaan sesajen di pinggir jalan. Sesajen merupakan persembahan suci umat Hindu Bali. Masyarakat setempat melarang siapa pun sengaja menginjaknya. Jika terjadi tanpa sengaja, pengunjung dianjurkan segera meminta maaf dan berdoa di lokasi sebagai bentuk penghormatan.

Selain itu, wisatawan juga perlu memperhatikan aturan saat memasuki tempat suci. Perempuan yang sedang datang bulan serta orang yang tengah berduka tidak diperkenankan masuk ke area pura. Pakaian juga harus sopan, menggunakan kain dan selendang di pinggang. Pengunjung dilarang berbicara kasar, naik ke pelinggih, atau melakukan tindakan yang dianggap tidak menghormati kesucian tempat.

Pada perayaan Hari Raya Nyepi, masyarakat diwajibkan menaati aturan adat seperti tidak keluar rumah, tidak menyalakan lampu, tidak beraktivitas, dan tidak menimbulkan kebisingan. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat dikenai sanksi adat sesuai ketentuan desa setempat, kecuali dalam kondisi darurat.

Etika lain yang harus dijaga yakni tidak membunyikan klakson berlebihan saat ada prosesi keagamaan seperti Ngaben atau Melasti, tidak menunjuk dengan kaki atau tangan kiri tanpa permisi, serta tidak memegang kepala orang lain karena dianggap bagian tubuh paling suci.

Wisatawan juga diingatkan untuk tidak buang air kecil sembarangan, terutama di lokasi yang dianggap sakral seperti pohon besar, batu, atau area yang terdapat sesajen. Di beberapa pura, ada pula pantangan khusus, seperti larangan memakai kain poleng di lokasi tertentu atau menggunakan flash kamera saat ada umat yang bersembahyang.

Kehadiran wisatawan di Bali diharapkan tetap menjaga sikap sopan dan menghormati aturan adat. Memahami budaya lokal sebelum berkunjung menjadi langkah penting agar perjalanan tidak hanya menyenangkan, tetapi juga penuh penghargaan terhadap nilai spiritual masyarakat Bali.

Dengan menaati larangan dan etika yang berlaku, wisatawan dapat berkontribusi menjaga keharmonisan antara pariwisata dan budaya lokal Pulau Dewata.(NI 01)



Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال