Mikroplastik Ditemukan dalam 50 Persen Plak Pembuluh Darah, Pemicu Serangan Jantung Tak Bisa Diobati

Penyempitan pembuluh darah yang selama ini diidentikkan dengan penumpukan kolesterol dan perkapuran, ternyata turut dipicu oleh paparan partikel mikroplastik yang mengendap secara permanen di dalam tubuh manusia.(Pixabay/Friedrich Teichmann)

JAKARTA, Nusainsight.com - Ancaman penyakit kardiovaskular seperti stroke dan serangan jantung kini memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan. Penyempitan pembuluh darah yang selama ini diidentikkan dengan penumpukan kolesterol dan perkapuran, ternyata turut dipicu oleh paparan partikel mikroplastik yang mengendap secara permanen di dalam tubuh manusia.

dr. Djaja Surya Atmadja, SpFM(K), SH, PhD, Dokter Forensik DNA, Dosen FKUI sebagaimana dipaparkan dalam diskusi kesehatan pada kanal youtube Rhenald Kasali mengungkapkan temuan medis terkini mengenai komposisi plak penyumbat pembuluh darah. Berdasarkan riset terbaru, sekitar 50 persen dari materi plak pada pasien penyempitan pembuluh darah mengandung mikroplastik, zat anorganik yang sulit terurai dan berukuran di bawah 0,5 milimeter hingga skala nanometer.

"Dahulu kita mengenal plak pembuluh darah hanya berisi kolesterol dan perkapuran. Namun, penelitian terbaru menunjukkan separuh dari isi plak tersebut adalah mikroplastik. Ini sangat berbahaya karena partikel ini abadi, tidak bisa didegradasi oleh tubuh, dan tidak mampan diatasi hanya dengan obat antikolesterol," ujarnya.

Penumpukan mikroplastik pada dinding pembuluh darah membuat saluran darah mengeras dan menyempit. Berbeda dengan kandungan racun dalam darah yang masih bisa disaring melalui prosedur hemodialisis (cuci darah) akibat gagal ginjal, partikel mikroplastik yang telah melekat pada dinding pembuluh darah tidak dapat dibersihkan atau diobati. Kondisi ini meningkatkan risiko kematian akibat penyumbatan fatal secara signifikan.

Masuknya mikroplastik ke tubuh manusia terjadi melalui rantai makanan dan lingkungan yang telah tercemar. Plastik yang terurai akibat sinar matahari dan proses pembakaran melepaskan mikroplastik ke udara serta sumber air. Partikel ini kemudian dikonsumsi oleh plankton, ikan, hewan ternak, hingga tanaman pangan, sebelum akhirnya mengendap di dalam jaringan tubuh manusia.

Selain mikroplastik dari lingkungan, ancaman kimia lain datang dari penggunaan kemasan plastik berulang yang mengandung Bisphenol A (BPA). Komponen sintetik ini berpotensi mengganggu sistem hormon, memicu kanker, hingga merusak fungsi organ tubuh jika terpapar suhu panas atau digunakan melebihi batas waktu aman.

Guna menekan tingginya angka penyakit degeneratif dan beban biaya kesehatan BPJS Kesehatan, para pakar mengimbau masyarakat untuk segera mengubah pola hidup. Penggunaan wadah makanan bebas BPA (BPA free), pembatasan konsumsi gula, garam, serta lemak (hidden salt dan hidden sugar), serta rutin berolahraga seperti berjalan kaki minimal 30 menit sehari (5.000 langkah) menjadi langkah krusial untuk menjaga kelancaran sirkulasi darah dan kesehatan ginjal.(NI 01)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال