Tiga Tanaman di Pintu Rumah Adat Bali, Dipercaya Jadi Benteng Spiritual Penolak Bala

Kayu tulak, kayu sisih, dan pandan berduri dipercaya sebagai simbol perlindungan rumah adat Bali. Simak makna spiritual dan filosofi ketiganya.(Istimewa)

DENPASAR, Nusainsight.com – Bukan sekadar penghias pekarangan, tiga jenis tanaman ini memiliki makna spiritual dalam tradisi masyarakat Bali. Kayu tulak, kayu sisih, dan pandan berduri dipercaya menjadi simbol perlindungan bagi rumah sekaligus bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi menempatkan tanaman tertentu di area pintu masuk pekarangan rumah masih menarik perhatian karena menyimpan filosofi yang erat dengan kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Ketiga tanaman tersebut diyakini memiliki fungsi simbolis untuk menangkal pengaruh negatif dan menjaga keharmonisan lingkungan tempat tinggal.

Informasi mengenai makna spiritual tanaman upakara ini disampaikan melalui penyuluhan keagamaan yang diunggah akun media sosial @luh.sri.penyuluh.

Dalam penjelasan tersebut, kayu tulak, kayu sisih, dan pandan berduri disebut sebagai tanaman yang memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi dalam kepercayaan masyarakat setempat.

Kayu tulak dipercaya berfungsi untuk menolak atau menghalau energi negatif yang dianggap dapat mengganggu lingkungan pekarangan. Kehadirannya menjadi simbol harapan agar penghuni rumah terhindar dari berbagai pengaruh buruk.

Sementara itu, kayu sisih memiliki makna sebagai penyingkir atau pengalih niat jahat yang datang dari luar. Tanaman ini melambangkan upaya menjaga penghuni rumah dari ancaman yang dipercaya dapat mengganggu ketenteraman keluarga.

Adapun pandan berduri melengkapi simbol perlindungan tersebut. Duri-durinya yang tajam dipercaya memiliki makna sebagai penangkal ilmu hitam dan ancaman gaib. Dalam konteks tradisi, karakter fisik tanaman ini menjadi simbol pertahanan terhadap hal-hal yang dianggap membahayakan.

Ketiga tanaman tersebut kemudian dipahami sebagai bentuk pemagaran spiritual dalam kepercayaan tradisional masyarakat Bali. Penempatannya di sekitar pintu masuk memiliki arti tersendiri karena pintu dipandang sebagai akses keluar-masuk penghuni maupun orang yang berkunjung ke rumah.

Lebih dari sekadar kepercayaan terhadap kekuatan simbolis tanaman, tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Bali mewariskan nilai-nilai budaya melalui praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Tanaman upakara juga menjadi bagian dari hubungan masyarakat dengan alam. Pemanfaatan tumbuhan di lingkungan rumah memperlihatkan bahwa pekarangan tidak hanya memiliki fungsi praktis dan estetis, tetapi juga dapat memuat nilai adat, filosofi, serta spiritualitas.

Meski demikian, keyakinan mengenai kemampuan tanaman untuk menangkal energi negatif, ilmu hitam, maupun ancaman gaib merupakan bagian dari kepercayaan tradisional dan tidak dapat dipandang sebagai fakta ilmiah yang telah terbukti.

Di tengah perkembangan zaman, pengenalan kembali tradisi seperti ini menjadi salah satu cara untuk menjaga pengetahuan lokal agar tetap dikenal generasi muda.

Bagi masyarakat Bali, kayu tulak, kayu sisih, dan pandan berduri bukan semata-mata tanaman yang tumbuh di pekarangan. Ketiganya merepresentasikan harapan akan keselamatan, ketenteraman, dan keharmonisan keluarga yang terus hidup dalam warisan budaya Bali.(NI 01)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال