Demam, Teman atau Musuh? Ini Penjelasan yang Sering Disalahpahami

Demam tidak selalu berbahaya. Ketahui kapan demam menjadi teman tubuh dan kapan harus ditangani dengan obat agar tidak berdampak buruk.(Pixabay/Gadini)

DENPASAR, Nusainsight.com - Demam kerap membuat panik. Banyak orang langsung mencari obat penurun panas begitu suhu tubuh naik. Padahal, dalam kondisi tertentu, demam justru berperan sebagai “teman” bagi tubuh.

“Direbus airnya. Dalam rangka apa itu merebus? Dalam rangka membunuh bakteri sama virus di air itu, sehingga steril buat kita minum. Begitu pula tubuh kita. Ketika kita terinfeksi bakteri dan virus, maka yang pertama kali dilakukan oleh tubuh adalah meningkatkan suhunya agar membunuh bakteri sebagai first line of defense gitu, naik suhunya,” jelas dr Gia dalam unggahnya di Medsos.

Penjelasan tersebut menegaskan bahwa demam adalah respons alami tubuh untuk melawan infeksi. Ketika suhu meningkat, sistem imun bekerja lebih optimal dalam menekan perkembangan bakteri dan virus.

“Oleh karena itu, ketika kita naik suhunya, jangan langsung diturunkan. Karena demam itu sesungguhnya teman. Jika kita langsung turunkan, maka ya sistem itu tidak bekerja,” lanjutnya.

Meski demikian, demam tetap perlu diawasi. Jika berlangsung terlalu lama, kondisi ini justru bisa berdampak buruk bagi tubuh.

“Betul, kalau kita masak mie kelamaan juga kan mienya benyek gitu. Nah, tubuh kita juga sama, kalau demamnya kelamaan lebih dari 4 hari ya nggak bagus juga, makanya perlu obat penurun demam,” ujarnya.

Pada fase awal demam, terutama di hari pertama, langkah sederhana dinilai lebih bijak dibanding langsung mengonsumsi obat. Asupan cairan yang cukup menjadi kunci utama.

“Tapi ketika baru demam sehari, opsi yang lebih bijaksana adalah ya minum air putih yang cukup, yaitu 40 cc per kilogram berat badan per hari. Karena kebutuhan cairan kita meningkat 10% per satu derajat suhu kita naik,” paparnya.

Selain itu, istirahat yang cukup dan kompres hangat juga membantu tubuh memperkuat sistem imun. Dengan cara ini, tubuh diberi kesempatan untuk melawan infeksi secara alami.

“Kalau kita minumnya cukup, air putih anget, kompres-kompres, dan istirahat, itu sudah sangat cukup membantu imunitas tubuh kita. Biarkan sistem imun kita bekerja dengan baik,” tambahnya.

Penggunaan obat penurun demam seperti parasetamol dan ibuprofen sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Terlebih, kedua jenis obat tersebut memiliki potensi efek samping jika digunakan tidak tepat.

“Jadi di saat kita membiarkan sistem canggih ini bekerja, tidak diintervensi dengan obat-obatan, itu justru lebih bijaksana. Karena obat-obatan yang kita minum untuk menurunkan demam, biasanya pakai apa? Biasanya temen-temen menggunakan parasetamol atau ibuprofen. Nah, dua ini memang kurang bagus untuk beberapa organ tubuh kita. Kalau fungsi ginjal turun, apa kira-kira yang terjadi? Ginjal itu luar biasa, teman-teman,” terangnya.

Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan tidak lagi panik menghadapi demam. Kenali kapan harus membiarkan tubuh bekerja secara alami dan kapan perlu intervensi medis, agar kesehatan tetap terjaga secara optimal.(NI 01)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال