Mitos tentang Ciri Kanker Serviks yang Terbukti Salah, Jangan Sampai Salah Kaprah

Simak mitos tentang ciri kanker serviks yang terbukti salah. Ketahui fakta medis seputar HPV, gejala, dan pentingnya deteksi dini untuk mencegah risiko fatal.(Pixabay/padrinan)

JAKARTA, Nusainsight.com – Banyak perempuan masih mempercayai mitos tentang ciri kanker serviks yang ternyata tidak benar. Padahal, pemahaman yang keliru bisa membuat seseorang terlambat melakukan pemeriksaan dan penanganan dini.

Serviks merupakan bagian bawah rahim yang terhubung dengan vagina dan berperan penting dalam proses kehamilan. Bagian ini menjadi jalur masuk sperma menuju rahim saat terjadi pembuahan. Karena fungsinya vital, menjaga kesehatan serviks menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Kanker serviks adalah penyakit berbahaya yang berisiko pada wanita disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Pada banyak kasus, penderita baru menyadari penyakit ini setelah muncul gangguan serius. Karena itu, pemeriksaan rutin sangat disarankan agar deteksi dini bisa dilakukan lebih cepat.

Setiap tahun, kasus kanker serviks masih ditemukan dalam jumlah yang tidak sedikit. Sayangnya, beragam mitos yang salah justru membuat sebagian perempuan merasa aman tanpa melakukan skrining.

Mitos 1: Kanker Serviks Terjadi Ketika Ada Rasa Sakit pada Miss V

Banyak orang mengira kanker serviks selalu menimbulkan rasa sakit di area intim. Faktanya, infeksi virus pada serviks umumnya tidak langsung menimbulkan gejala. Rasa tidak nyaman biasanya muncul ketika kondisi sudah memasuki tahap lanjut. Itulah sebabnya pemeriksaan rutin seperti Pap smear atau tes HPV menjadi sangat penting meski tidak ada keluhan.

Jika kamu masih mempunyai pertanyaan terkait segala mitos dari kanker serviks, dokter dari Halodoc siap menjawabnya. Caranya mudah sekali, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan sehari-hari untuk mendapatkan kemudahan akses kesehatan.

Mitos 2: Terdiagnosis HPV Berarti Seseorang Berselingkuh

Anggapan lain yang kerap muncul adalah infeksi HPV terjadi karena salah satu pasangan tidak setia. Padahal, virus HPV bisa bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala. Seseorang bisa saja terinfeksi jauh sebelum menjalani hubungan yang sekarang.

Tidak ada cara pasti untuk mengetahui kapan infeksi terjadi. Karena itu, menyimpulkan adanya perselingkuhan hanya berdasarkan diagnosis HPV jelas tidak tepat.

Mitos 3: Hanya Memiliki Satu Pasangan Seksual Berarti Aman

Sebagian orang merasa tidak berisiko karena hanya memiliki satu pasangan seksual. Faktanya, HPV tidak selalu membutuhkan penetrasi seksual untuk menular. Kontak dengan cairan tubuh yang mengandung virus pun dapat menyebabkan penularan.

Memahami mitos tentang ciri kanker serviks yang terbukti salah sangat penting agar perempuan tidak lengah. Deteksi dini, vaksinasi HPV, dan pemeriksaan rutin menjadi langkah efektif untuk mencegah dampak fatal hingga kematian. Edukasi yang benar akan membantu perempuan lebih waspada dan berani melakukan skrining sejak dini.(NI 01)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال