![]() |
| Rokok rempah sering dianggap lebih sehat karena berbahan herbal. Simak fakta dan bahaya rokok rempah bagi kesehatan, dari risiko paru-paru hingga penyakit jantung.(Pixabay/klimkin) |
DENPASAR, Nusainsight.com - Rokok rempah kerap dipasarkan sebagai pilihan “lebih alami” dibanding rokok tembakau. Aroma cengkeh, kayu manis, atau jahe yang khas membuat sebagian orang percaya produk ini lebih aman bagi kesehatan. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Di balik wangi rempah, rokok rempah tetap menyimpan risiko kesehatan serius.
Rokok rempah sering juga disebut rokok herbal terbuat dari campuran bunga, daun, kulit kayu, dan berbagai rempah seperti cengkeh, kayu manis, serta jahe. Beberapa produk bahkan mencampurkan tembakau atau nikotin, meski ada pula yang mengklaim bebas nikotin. Apa pun komposisinya, proses pembakaran tetap menghasilkan zat beracun yang berbahaya bagi tubuh.
Sejumlah merek beredar di pasaran, mulai dari Rempah Herbal CK, Tani Madjoe, hingga produk khas daerah seperti Rokok Rempah Magelang. Produsen kerap menonjolkan kesan tradisional dan herbal untuk menarik minat konsumen. Sayangnya, kesan alami ini sering memunculkan persepsi keliru.
Sebagian pengguna meyakini rokok rempah memiliki manfaat tertentu. Ada yang menganggap aromanya lebih lembut, membantu meredakan stres, bahkan melegakan pernapasan. Klaim lain menyebut rokok ini mampu meningkatkan stamina karena kandungan herbalnya. Namun, hingga kini klaim tersebut belum terbukti secara ilmiah dan lebih banyak bersifat subjektif.
Faktanya, saat dibakar, bahan herbal tetap menghasilkan tar, karbon monoksida (CO), dan berbagai zat karsinogenik. Paparan zat tersebut dapat merusak saluran pernapasan serta pembuluh darah. Risiko gangguan kesehatan pun tidak bisa diabaikan.
Dalam jangka panjang, konsumsi rokok rempah dapat memicu gangguan pernapasan seperti bronkitis, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), dan pneumonia. Karbon monoksida yang terhirup juga dapat merusak dinding pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung akibat penyempitan pembuluh darah.
Tak hanya itu, zat hasil pembakaran berpotensi memicu kanker mulut, laring, kerongkongan, hingga paru-paru. Kandungan tar juga menyebabkan gigi menguning, pembentukan plak, serta meningkatkan risiko penyakit gusi.
Badan pengawas seperti Food and Drug Administration (FDA) bahkan melarang penggunaan istilah “herbal” atau “ringan” pada produk rokok karena dianggap menyesatkan. Label tersebut tidak menjamin keamanan produk. Efek jangka panjang rokok rempah pun belum sepenuhnya diteliti secara komprehensif.
Masyarakat perlu memahami bahwa rokok rempah bukan alternatif aman dari rokok tembakau. Aroma wangi tidak menghapus risiko racun hasil pembakaran. Jika ingin menjaga kesehatan paru-paru dan jantung, langkah paling aman tetap berhenti merokok sepenuhnya.
Edukasi yang tepat menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam mitos sehat rokok rempah. Pilihan terbaik bagi kesehatan tetap menjauhi segala bentuk rokok, baik tembakau maupun herbal.(NI 01)
