![]() |
| Ogoh-ogoh “Maguru Satua” dari ST Tunas Remaja Penarungan meraih Juara I Badung Caka Fest 2026. Simak daftar enam ogoh-ogoh terbaik dan sistem penilaian dewan juri.(NI 01) |
MANGUPURA, Nusainsight.com – Panitia Badung Caka Fest 2026 resmi mengumumkan enam karya ogoh-ogoh terbaik tingkat kabupaten setelah melalui proses penilaian ketat terhadap 21 peserta. Seluruh karya tersebut tampil dalam rangkaian festival yang berlangsung pada 6–8 Maret 2026. Pengumuman pemenang dilakukan secara virtual pada Rabu (11/3/26) dan dihadiri tujuh dewan juri yang terlibat langsung dalam kurasi artistik festival budaya tahunan tersebut.
Hasil penilaian menempatkan ogoh-ogoh “Maguru Satua” garapan ST Tunas Remaja, Banjar Umahayar, Desa Adat Penarungan, Kecamatan Mengwi sebagai Juara I dengan skor tertinggi 914,00. Karya ini dinilai unggul tidak hanya dari sisi visual, tetapi juga dari kekuatan konsep, penyajian fragmentari, serta kesatuan artistik yang dianggap paling matang dibandingkan peserta lainnya.
Posisi Juara II diraih ogoh-ogoh “Manutur” karya ST Bhuana Kusuma, Banjar Peken, Desa Adat Bualu, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan dengan skor 895,00. Sementara Juara III ditempati “Kala Bendu” dari ST Bhakti Dharma, Banjar Kangin, Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan dengan nilai 855,00.
Adapun peringkat berikutnya yakni Juara IV “Prayatna” oleh ST Putra Laksana dari Banjar Bersih, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal dengan skor 828,00. Juara V diraih “Bergah” karya ST Putra Dharma Jati, Banjar Batubelig, Kelurahan Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara dengan nilai 814,00. Sedangkan Juara VI diraih “Prahara Ning Candra Gohmuka” dari ST Bhakti Yowana, Banjar Banjaran, Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani dengan skor 813,00.
Ketua Panitia Badung Caka Fest 2026, Ida Bagus Munika, menegaskan panitia hanya menyampaikan hasil penilaian yang sepenuhnya menjadi kewenangan dewan juri. Ia menyatakan keputusan yang dihasilkan merupakan hasil evaluasi profesional terhadap seluruh peserta yang telah tampil selama tiga hari pelaksanaan festival.
“Keputusan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat. Panitia hanya mengumumkan hasil yang telah menjadi tanggung jawab para juri,” ujarnya.
Munika juga mengakui bahwa dalam setiap kompetisi selalu muncul rasa puas maupun tidak puas. Namun, mekanisme penilaian telah dilakukan melalui parameter yang disepakati bersama.
Sementara itu, dewan juri menekankan bahwa kemenangan tidak ditentukan semata oleh bentuk ogoh-ogoh, melainkan integrasi antara visual, narasi, dan pertunjukan fragmentari. Juri fragmentari, I Gede Oka Surya Negara SST, M.Sn. didampingi Gusti Putu Arya, S.Sn sebagai juri ogoh-ogoh menjelaskan sistem penilaian dilakukan dalam dua tahap utama, yakni penilaian ogoh-ogoh dalam posisi diam serta penyatuan dengan pertunjukan fragmentari.
Menurutnya, fragmentari menjadi ruang pengujian kualitas artistik secara menyeluruh melalui tiga indikator utama yakni koreografi, kualitas penataan tari, teknik gerak, serta pola lantai para pemain. Selain itu juga dinilai keserasian atau unity antara tema, tokoh, cerita, dan ogoh-ogoh sebagai satu narasi utuh, serta inovasi dalam mengembangkan tradisi melalui eksplorasi gerak, konsep, maupun penggunaan properti tanpa meninggalkan akar budaya.
“Penilaian bukan berdasarkan selera pribadi, tetapi kriteria yang sudah ditetapkan. Fragmentari adalah penyatuan nilai ogoh-ogoh dengan pertunjukan,” jelasnya.
Ia menambahkan, peserta yang belum meraih juara bukan berarti karyanya kurang baik, melainkan karena kompetisi menuntut seleksi terhadap enam karya paling kuat secara keseluruhan.
Badung Caka Fest 2026 menunjukkan pergeseran penting dalam lomba ogoh-ogoh, dari sekadar kekuatan bentuk menuju pertunjukan konseptual berbasis cerita dan koreografi. Dewan juri menilai banyak peserta mulai berani melakukan eksplorasi artistik, baik melalui desain gerak maupun penggunaan properti panggung.
Fenomena ini menandakan lomba ogoh-ogoh tidak lagi sekadar parade visual menjelang Nyepi, tetapi berkembang menjadi ruang kreativitas kolektif generasi muda dalam merespons tradisi secara progresif.
Para juri berharap capaian tahun ini menjadi tolok ukur peningkatan kualitas karya pada penyelenggaraan berikutnya, baik bagi pemenang maupun peserta lainnya.
"Dengan standar penilaian yang semakin kompleks, Badung Caka Fest kini bukan hanya ajang kompetisi, melainkan arena pembuktian arah baru seni ogoh-ogoh Bali,"ungkapnya.(NI 01)
