![]() |
| Pantangan keramas saat Jumat Wuku Wayang masih dipercaya masyarakat Bali. Tradisi ini berkaitan dengan energi spiritual, kesucian kepala, dan upaya menjaga taksu diri.(Pixabay/Sunriseforever) |
DENPASAR, Nusainsight.com – Masyarakat Bali dikenal tetap menjaga kearifan lokal di tengah perkembangan zaman. Salah satunya terlihat dari kepatuhan terhadap sistem penanggalan Wuku yang masih dijalankan hingga kini. Dalam siklus tersebut, Jumat Wuku Wayang menjadi salah satu hari yang dianggap sakral sekaligus penuh kehati-hatian. Pada tahun 2026, Jumat Wuku Wayang jatuh pada 13 Maret.
Di balik kesakralannya, terdapat pantangan yang masih dipercaya sebagian masyarakat, yakni larangan untuk keramas pada hari tersebut. Ida Pandita Kebayan dalam unggahanya di Media Sosial mengatakan, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan keseimbangan energi alam.
Dalam kepercayaan Hindu Bali, dari total 30 wuku yang ada dalam sistem kalender tradisional, Wuku Wayang dipercaya memiliki kekuatan energi spiritual yang sangat kuat. Energi tersebut diyakini cenderung bersifat negatif atau disebut leteh, yaitu kondisi yang dianggap kotor secara spiritual.
Puncak energi ini dipercaya terjadi pada hari Jumat. Dalam keyakinan masyarakat, pada saat itu energi Sang Hyang Kala sedang mengalami “murtie” atau manifestasi yang kuat. Kondisi ini dipercaya dapat memengaruhi unsur alam, termasuk air.
Air pada hari Jumat Wuku Wayang diyakini berada dalam kondisi tidak suci untuk digunakan dalam proses penyucian diri yang penting, seperti mencuci rambut atau keramas. Karena itu, masyarakat yang memegang teguh tradisi memilih menghindari keramas pada hari tersebut.
Dalam filosofi Bali, kepala merupakan bagian tubuh yang paling disucikan atau dikenal sebagai Utamaning Angga. Kepala dianggap sebagai pusat pikiran, kesadaran, sekaligus tempat bersemayamnya taksu atau energi karisma seseorang.
Jika keramas dilakukan menggunakan air yang dianggap leteh, maka dikhawatirkan dapat memengaruhi kesucian diri. Beberapa kepercayaan menyebutkan hal itu bisa membuat pikiran menjadi tidak jernih, mengurangi taksu, hingga membuka peluang masuknya pengaruh negatif terhadap kesadaran manusia.
Sebagai bentuk perlindungan diri selama Wuku Wayang, masyarakat Bali biasanya melakukan sejumlah ritual sederhana. Salah satunya memasang Seselat atau Sesuwuk di tempat-tempat suci dan pintu masuk rumah. Selain itu, ada pula tradisi Mecece atau Meccolek Pamor, yakni mengoleskan kapur sirih pada bagian dada sebagai simbol perlindungan dari energi negatif.
Meski demikian, pantangan ini tidak berarti seseorang tidak boleh mandi sama sekali. Aktivitas dasar untuk menjaga kebersihan tubuh tetap diperbolehkan.
"Sepanjang air itu tidak membilas keras kepala kita, itu masih diperbolehkan. Namun bagi pejalan spiritual, sangat disarankan untuk menghindari keramas guna menjaga kesucian dan taksu diri," ungkapnya.
Tradisi ini menjadi salah satu bentuk pengingat agar manusia tetap selaras dengan alam dan menghormati siklus energi yang dipercaya hadir dalam kehidupan. Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, mengatur waktu keramas sebelum atau sesudah Jumat Wuku Wayang menjadi cara sederhana untuk tetap menghormati nilai-nilai budaya Bali yang diwariskan turun-temurun.(NI 01)
