Suhu Udara di Bali Turun Drastis hingga 20 Derajat Celcius, BMKG Ungkap Penyebabnya

Penurunan suhu udara yang terjadi di Pulau Dewata dipicu oleh adanya pergerakan angin monsun Australia.(pixabay/fotografierende)

DENPASAR, Nusainsight.com - Warga di berbagai wilayah Provinsi Bali belakangan ini mengeluhkan kondisi cuaca yang terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Fenomena penurunan suhu udara yang drastis ini bahkan dilaporkan membuat masyarakat di beberapa dataran tinggi menggigil pada malam dan dini hari.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, perubahan suhu yang menusuk tulang ini sangat dirasakan oleh masyarakat yang berada di kawasan dataran tinggi seperti Kintamani, Bedugul, hingga Kabupaten Bangli. Pada malam hari, suhu udara di wilayah-wilayah tersebut dilaporkan anjlok secara signifikan, memaksa warga setempat dan para pelancong untuk mengenakan pakaian berlapis guna menghalau rasa dingin yang ekstrem. Sementara itu, untuk wilayah Bali secara umum, alat pengukur suhu menunjukkan angka berada di kisaran 20 derajat Celcius saat malam dan dini hari.

Menanggapi fenomena alam yang ramai diperbincangkan ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya buka suara. Menurut rilis resmi BMKG, penurunan suhu udara yang terjadi di Pulau Dewata dipicu oleh adanya pergerakan angin monsun Australia. Angin tersebut bergerak membawa massa udara yang bersifat dingin dan kering dari benua Australia menuju wilayah Indonesia, termasuk melintasi kawasan Bali.

Selain faktor angin monsun, BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh karakteristik musim kemarau. Pada saat musim kemarau, kondisi langit cenderung lebih cerah dan bersih tanpa hambatan awan. Ketiadaan awan di langit ini menyebabkan panas bumi yang diserap pada siang hari menjadi lebih cepat terlepas dan hilang ke atmosfer pada malam hari. Proses pelepasan energi panas yang cepat inilah yang memicu penurunan suhu udara secara drastis saat matahari tenggelam.

Meskipun fenomena ini dinilai normal terjadi saat memasuki puncak musim kemarau, sebagian warga merasakan hawa dingin pada tahun ini terasa lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Terkait situasi ini, pihak BMKG mengimbau kepada seluruh masyarakat Bali maupun wisatawan untuk senantiasa menjaga kondisi kesehatan tubuh. Pasalnya, perubahan suhu udara yang dingin secara mendadak berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti flu, masuk angin, hingga masalah saluran pernapasan.(NI 01)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال