Kenali Fase "Terrible Two" Pada Anak dan Cara Tepat Menghadapinya

Menghadapi anak usia 2 tahun yang suka mengamuk dan tantrum memang melelahkan. Simak penjelasan dr. Hendra, Sp.A mengenai fase "Terrible Two" dan tips mengatasinya agar orang tua tetap tenang.(thedanw/pixabay)


DENPASAR, Nusainsight.com – Menghadapi buah hati yang menginjak usia dua tahun sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Pada fase ini, anak yang semula penurut tiba-tiba bisa berubah menjadi sosok yang gemar mengamuk, mengalami tantrum, menolak perintah dengan kata "tidak", hingga melempar barang-barang di sekitarnya. 

Kondisi ini tak jarang memicu rasa lelah dan stres bagi ayah maupun ibu. Namun, para orang tua diimbau untuk tidak panik dan tidak terburu-buru melabeli anak mereka sebagai anak yang nakal. Dokter Spesialis Anak, dr. Hendra, Sp.A, menjelaskan bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari fase perkembangan emosi yang sangat normal pada anak usia dua tahun, atau yang secara medis dan psikologis populer dikenal dengan istilah fase “Terrible Two”. 

“Di usia ini, anak itu lagi belajar. Mereka mulai punya keinginan sendiri, tetapi sayangnya belum bisa berbicara atau berkomunikasi dengan jelas untuk menyampaikan apa yang mereka mau. Ditambah lagi, emosi mereka masih meledak-ledak,” ujar dr. Hendra dalam sebuah unggahan edukasi di akun media sosial.

Menurut dr. Hendra, fase ini memang terasa sangat berat bagi orang tua. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa anak-anak tersebut tidak sedang bermasalah, melainkan sedang berproses dalam fase belajar untuk menjadi manusia seutuhnya yang mandiri. 

Untuk membantu para orang tua melewati masa-masa penuh dinamika ini, dr. Hendra membagikan lima langkah strategis dan bijak yang dapat diterapkan di rumah, yakni tetap Tenang dan Tahan Emosi Orang tua wajib menjaga ketenangan diri saat anak mulai mengamuk. Jika orang tua ikut terpancing emosi dan membalas dengan kemarahan, anak akan menganggap bahwa meledakkan emosi adalah hal yang wajar.

Akibatnya, perilaku tantrum anak justru akan semakin parah di kemudian hari. Berikan pilihan untuk anak, karena salah satu cara memberikan rasa kendali pada anak adalah dengan menawarkan pilihan terbatas. Sebagai contoh, orang tua bisa bertanya, "Mau pakai baju yang warna merah atau warna biru, sayang?". Cara ini membuat anak merasa dilibatkan dan memiliki kontrol atas dirinya sendiri. 

Pastikan kebutuhan dasar terpenuhi, karena orang tua harus memastikan bahwa jadwal makan dan tidur anak terpenuhi dengan baik, serta menghindari overstimulasi (stimulasi berlebih). Sering kali, anak menjadi gampang mengamuk hanya karena faktor-faktor sederhana seperti mengantuk, lapar, atau kelelahan secara fisik. Validasi emosi anak saat anak merasa kecewa atau marah, akuilah perasaan mereka. 

Menolak atau meremehkan emosi anak hanya akan membuat mereka merasa frustrasi karena tidak dipahami. Konsisten dalam menerapkan aturan, karena konsistensi adalah kunci utama dalam pola asuh. Jangan sampai aturan yang diterapkan berubah-ubah, misalnya hari ini suatu hal diperbolehkan, tetapi keesokan harinya dilarang. 

Ketidakkonsistenan ini hanya akan membuat anak merasa bingung. Fase Terrible Two memang menguras energi, tetapi dengan pemahaman yang tepat, kesabaran, dan kasih sayang yang konsisten, masa transisi ini dapat dilalui dengan baik sekaligus menjadi fondasi kuat bagi perkembangan emosional anak di masa depan.(NI 01)
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال