![]() |
| Penyakit jantung koroner kian marak mengintai usia produktif yang secara fisik terlihat bugar.(Ilustrasi) |
DENPASAR, Nusainsight.com - Mitos bahwa serangan jantung hanya menyerang kelompok lanjut usia kini resmi terbantah. Fenomena klinis terbaru menunjukkan pergeseran tren yang mengkhawatirkan, di mana penyakit jantung koroner kian marak mengintai usia produktif yang secara fisik terlihat bugar.
dr. Erta, seorang Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Klinik Kiera, dalam unggahanya di media sosial mengatakan rasa prihatinnya terhadap fenomena ini. Menurutnya, stereotipe masa lalu yang mengidentikkan pasien jantung dengan kakek-kakek berusia di atas 60 tahun sudah tidak lagi relevan.
"Beberapa bulan lalu, saya menangani pasien berusia 30 tahunan. Badannya bagus, rajin nge-gym, bahkan sixpack. Namun, hasil CT scan koroner menunjukkan adanya penyempitan hingga 70% di salah satu pembuluh darahnya," ujar dr. Erta dalam edukasi publiknya.
Ia menegaskan bahwa usia di Kartu Tanda Penduduk (KTP) bukanlah garansi kekuatan mesin tubuh. Jantung tidak akan memeriksa umur seseorang sebelum ia memutuskan untuk berhenti berfungsi akibat beban kerja yang berlebihan. Efek domino siklus hidup yang "Dinormalisasi"
Penyebab utama dari lonjakan kasus di usia muda ini adalah akumulasi gaya hidup tidak sehat yang kerap dianggap wajar oleh masyarakat urban. dr. Erta mengibaratkan pembuluh darah seperti pipa air di kos-kosan. Jika setiap hari pipa tersebut dituangkan minyak jelantah, sisa kopi, dan gula, maka dinding pipa lambat laun akan dipenuhi kerak hingga tersumbat.
Dalam kehidupan sehari-hari, "kerak" tersebut terbentuk dari Konsumsi kopi dosis tinggi (double shot espresso) sebelum sarapan. Makan siang cepat saji dengan porsi karbohidrat dan lemak berlebih yang ditemani teh manis. Jadwal rapat yang padat dari sore hingga larut malam. Paparan stres akibat kemacetan jalan raya. Kebiasaan begadang akibat scrolling media sosial hingga dini hari.
Kebiasaan begadang secara kronis memicu lonjakan hormon kortisol yang berdampak pada peningkatan tekanan darah. Akibatnya, pembuluh darah menjadi tegang dan plak yang semula stabil dapat pecah, memicu pembekuan darah instan yang menyumbat aliran darah dalam hitungan menit.
Mirisnya, banyak anak muda yang mengabaikan sinyal bahaya dini dari tubuh. Rasa dada berat setelah makan pedas sering kali disalahartikan sebagai masuk angin, sementara napas terengah-engah saat naik tangga dianggap sekadar kurang tidur.
Sebagai langkah preventif, dr. Erta mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan tiga evaluasi mandiri: memeriksa tekanan darah secara berkala, mengecek kadar kolesterol, dan memastikan durasi tidur minimal 7 jam sehari.
"Jika dua dari tiga hal tersebut bermasalah, maka lampu kuning sudah menyala. Kabar baiknya, jantung usia 20-30 tahunan masih fleksibel untuk diajak berkompromi melalui perbaikan gaya hidup kecil, seperti mengganti boba dengan air putih atau menyempatkan jalan kaki 15 menit setiap malam," tutupnya.(NI 01)
