![]() |
| Para ibu agar berhati-hati dalam memberikan air minum yang bersumber dari galon isi ulang, terutama galon yang kondisinya sudah tua atau sering dipakai.(Istimewa) |
JAKARTA, Nusainsight.com – Para orang tua, khususnya para ibu, kini diminta untuk lebih selektif dalam memilih wadah air minum untuk keluarga di rumah. Sebuah edukasi kesehatan yang bersumber dari unggahan akun TikTok dr. Amira, Sp.OG, mengungkapkan adanya potensi bahaya galon guna ulang yang dapat memicu fenomena pubertas dini pada anak.
Dalam video edukasinya, mengingatkan para ibu agar berhati-hati dalam memberikan air minum yang bersumber dari galon isi ulang, terutama galon yang kondisinya sudah tua atau sering dipakai. Menurutnya, ada ancaman zat kimia berbahaya yang mengintai di balik kesegaran air tersebut.
"Tahukah Anda, paparan bahan kimia dari plastik ternyata bisa mengganggu keseimbangan hormon dan meningkatkan risiko pubertas dini pada anak Anda," ujar dr. Amira dalam unggahannya.
Ancaman utama yang disorot dalam edukasi ini adalah kehadiran zat kimia bernama Bisphenol A atau yang lebih populer dikenal sebagai BPA. Zat kimia ini biasa ditemukan pada plastik jenis polikarbonat yang kerap digunakan sebagai bahan baku galon air minum guna ulang.
Dokter Amira menjelaskan bahwa BPA bertindak sebagai estrogen disruptor atau pengganggu hormon fungsional di dalam tubuh. Ketika zat kimia ini luruh dan ikut terkonsumsi melalui air minum, senyawa tersebut mampu "menyamar" menjadi hormon estrogen alami.
Akibat dari penyamaran zat kimia ini, sistem hormonal di dalam tubuh anak akan mengekspresikan respons yang keliru. Tubuh anak mengira kadar estrogen mereka sudah matang, sehingga memicu terjadinya tanda-tanda pubertas dini pada anak secara lebih cepat dari usia yang seharusnya.
Guna meminimalisasi risiko gangguan hormonal ini, orang tua diimbau untuk segera memeriksa bagian bawah kemasan galon yang ada di rumah masing-masing. Perhatikan simbol segitiga daur ulang di bagian bawah galon. Jika terdapat angka 7 atau tulisan PC (Polycarbonate), maka kemasan tersebut memiliki risiko tinggi mengandung BPA yang dapat luruh, terutama jika galon sudah berumur tua atau sering terpapar suhu panas.
Kasus pubertas dini saat ini dilaporkan semakin sering ditemui di masyarakat. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa pemicu gangguan tumbuh kembang ini justru berasal dari kebiasaan sehari-hari di dalam rumah, salah satunya melalui konsumsi air dari wadah yang tidak bebas BPA.
Meskipun masyarakat tidak bisa mengontrol seluruh faktor lingkungan di luar rumah, dr. Amira menekankan bahwa memilih apa yang masuk ke dalam tubuh setiap hari adalah keputusan penuh di tangan orang tua demi masa depan kesehatan anak-anak mereka.(NI 01)
