![]() |
| Benarkah telur setengah matang lebih sehat? Simak hasil studi University of Leuven mengenai tingkat penyerapan protein dan cara terbaik memasak telur agar nutrisinya tidak hilang.(Ilona Frey/pixabay) |
JAKARTA, Nusainsight.com - Bagi Anda pencinta telur, perdebatan mengenai tingkat kematangan telur mana yang paling sehat kini akhirnya terjawab secara ilmiah. Sebuah studi klinis mengungkapkan bahwa mengonsumsi telur setengah matang merupakan metode terbaik untuk mendapatkan nutrisi maksimal tanpa merusak kandungan gizi di dalamnya.
Penelitian yang dilakukan oleh University of Leuven di Belgia menggunakan teknik pelacak isotop presisi tinggi untuk membandingkan tingkat penyerapan protein pada tubuh manusia dari berbagai tingkat kematangan telur. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan pada sistem pencernaan manusia.
Banyak orang, khususnya olahragawan, gemar mengonsumsi telur mentah karena dinilai lebih praktis dan murni. Namun, studi dari University of Leuven justru mematahkan kebiasaan tersebut.
Tubuh manusia ternyata hanya mampu menyerap sekitar 51% protein dari telur yang dikonsumsi secara mentah. Sisanya akan terbuang sia-sia dari tubuh tanpa terserap. Setelah melalui proses pemanasan atau dimasak, tingkat penyerapan protein melonjak drastis hingga 91%.
Secara ilmiah, panas dari proses memasak berfungsi untuk mengubah struktur protein pada telur (terdenaturasi). Proses ini membuka lipatan-lipatan rantai protein sehingga enzim pencernaan di dalam tubuh manusia dapat mengakses dan mencernanya dengan jauh lebih mudah.
Meski telur yang dimasak memiliki penyerapan protein yang tinggi, memasak telur terlalu lama hingga matang sempurna ternyata memiliki kerugian tersendiri. Di sinilah telur setengah matang menjadi pilihan yang paling ideal atau disebut sebagai sweet spot nutrisi.
Pada telur setengah matang, bagian putih telur telah mengalami denaturasi akibat panas. Hal ini memastikan penyerapan protein dalam putih telur tetap maksimal mendekati angka 91%.
Bagian kuning telur yang dibiarkan tetap cair menyimpan harta karun nutrisi yang sensitif terhadap panas. Kandungan penting seperti lutein, vitamin A, vitamin D, serta lemak sehat di dalamnya belum rusak atau teroksidasi oleh suhu tinggi yang berlebihan.
Memasak telur terlalu lama hingga kuningnya mengeras dan berubah warna justru dapat mengoksidasi kolesterol baik pada kuning telur serta mendegradasi sebagian besar kandungan vitamin esensial di dalamnya.
Dengan mengonsumsi telur setengah matang di mana putihnya matang dan kuningnya tetap cair. Anda mendapatkan kombinasi terbaik, penyerapan protein maksimal sekaligus perlindungan utuh terhadap vitamin dan lemak sehat di dalam kuning telur.(NI 01)
