![]() |
| Menkes Budi Gunadi Sadikin meluruskan mitos makan telur bikin bisulan dan kolesterol. Telur merupakan superfood efektif cegah stunting pada anak.(pixabay/Peggychoucair) |
JAKARTA, Nusainsight.com - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, meluruskan anggapan keliru di masyarakat mengenai konsumsi telur. Dalam sebuah edukasi publik, Menkes menegaskan bahwa kebiasaan makan telur setiap hari tidak menyebabkan bisulan maupun lonjakan kolesterol berbahaya bagi orang sehat, melainkan sangat efektif untuk mencegah stunting pada anak.
Menkes menegaskan bahwa bisul bukanlah disebabkan oleh konsumsi telur, melainkan akibat infeksi bakteri. Adapun reaksi gatal yang dialami sebagian orang setelah mengonsumsi telur merupakan gejala alergi, bukan indikasi munculnya bisul.
"Makan telur bikin bisulan itu salah. Bisul itu disebabkan oleh infeksi bakteri. Kalau setelah makan telur terasa gatal-gatal, itu artinya alergi, bukan bisul," ujar Menkes Gunadi.
Selain mitos bisul, Menkes Budi Gunadi juga menepis kekhawatiran masyarakat mengenai larangan mengonsumsi kuning telur karena dianggap memicu kolesterol tinggi. Bagi individu yang berada dalam kondisi sehat, mengonsumsi telur utuh setiap hari, termasuk bagian kuningnya aman dilakukan dan tetap menjaga kesehatan jantung.
Lebih lanjut, Menkes menekankan pentingnya menjadikan telur sebagai asupan harian anak-anak guna mencegah stunting. Telur dikategorikan sebagai superfood hewani dengan kandungan gizi yang sangat lengkap. Dalam satu butir telur rebus, terdapat sekitar 7 gram protein dan 70 kalori, serta kaya akan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk proses tumbuh tumbuh tumbuh kembang anak.
Asupan gizi dari telur sangat penting, terutama bagi anak di bawah usia dua tahun (baduta). Pada periode emas ini, perkembangan otak dan fisik anak berlangsung sangat pesat sehingga membutuhkan nutrisi berkualitas tinggi secara konsisten.
Menkes mengimbau para orang tua dan ibu rumah tangga untuk rutin menyajikan telur dalam menu harian anak-anak. Konsumsi porsi yang cukup tidak hanya membantu menciptakan generasi yang cerdas dan sehat, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam menekan angka stunting di Indonesia.(NI 01)
