24 Mitos dan Pantangan dalam Tradisi Bali, Ada yang Masih Dipercaya hingga Kini

Rangkuman 24 mitos dan pantangan adat Bali yang berkembang di masyarakat, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga larangan di tempat suci.(pixabay/StockSnap)

DENPASAR, Nusainsight.com - Jangan sembarangan bersiul saat malam, duduk di atas bantal, atau menyapu rumah setelah matahari terbenam. Di tengah kehidupan masyarakat Bali, sejumlah kebiasaan sederhana ternyata memiliki makna dan larangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mitos dan pantangan adat Bali menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sebagian berkaitan dengan etika sehari-hari, sementara lainnya berhubungan dengan ritual, hari suci, pura, hingga kawasan yang dianggap sakral seperti Gunung Agung dan Pura Lempuyang.

Kepercayaan tersebut tidak selalu dipahami sebagai aturan agama. Sebagian merupakan warisan budaya dan kepercayaan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Berikut 24 mitos dan pantangan yang dikenal dalam tradisi masyarakat Bali.

1. Memotong Kuku di Malam Hari

Memotong kuku pada malam hari dipercaya dapat mendatangkan kesialan bagi orang tua, mendoakan hal buruk bagi keluarga, bahkan memperpendek umur.

2. Keramas saat Hari Kajeng Kliwon

Sebagian masyarakat percaya keramas pada Hari Kajeng Kliwon dapat menyebabkan kerontokan rambut dan membuat seseorang lebih rentan terhadap gangguan gaib.

3. Duduk di Atas Bantal

Orang tua zaman dahulu melarang anak duduk di atas bantal atau galeng karena dipercaya dapat menyebabkan bisul.

4. Makan Telur Bersamaan dengan Ikan Pindang

Mitos yang berkembang menyebutkan perpaduan kedua makanan tersebut dapat memicu perilaku aneh atau tidak wajar.

5. Makan Semangka Bersamaan dengan Gula Merah

Kombinasi semangka dan gula merah dipercaya dapat menimbulkan gangguan pencernaan atau diare.

6. Mendekati Orang yang Hendak Pergi Sabung Ayam

Orang yang bertanya atau berada terlalu dekat dengan seseorang yang hendak pergi sabung ayam dipercaya membawa nasib buruk sehingga menyebabkan kekalahan.

7. Berdiri di Bawah Atap Cucuran Air Saat Sembahyang

Tindakan tersebut diyakini dapat mengganggu jalur atau perlintasan makhluk dari alam lain.

8. Melintasi Bawah Jembatan dan Jemuran

Melintasi area di bawah jembatan atau jemuran dipercaya dapat mengurangi wibawa seseorang, terutama dalam kepercayaan masyarakat tradisional yang berkaitan dengan kasta.

9. Bersiul di Malam Hari

Bersiul setelah malam tiba diyakini sebagai bentuk pemanggilan makhluk halus.

10. Mengucapkan Kata Kenyal saat Menuju Pura Lempuyang

Kata kenyal, yang berarti lelah dalam bahasa Bali, dipercaya tidak boleh diucapkan ketika menaiki tangga Pura Lempuyang. Kepercayaan ini dimaksudkan agar peziarah tetap memiliki semangat mencapai puncak.

11. Membawa Perhiasan Emas ke Gunung Agung

Membawa logam mulia saat mendaki Gunung Agung dianggap membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan kesucian kawasan tersebut dan dipercaya dapat memicu musibah.

12. Membawa Makanan Berbahan Daging Sapi ke Gunung Agung

Sapi merupakan hewan yang disucikan dalam ajaran Hindu. Karena itu, membawa daging sapi ke kawasan suci Gunung Agung dipercaya dapat mengotori kesucian tempat tersebut.

13. Mendaki Gunung Agung Saat Berduka

Orang yang baru kehilangan anggota keluarga dan masih berada dalam kondisi cuntaka atau tidak suci secara adat dipercaya tidak diperbolehkan mendaki Gunung Agung karena dikhawatirkan mendatangkan bencana.

14. Masuk Pura Saat Datang Bulan

Perempuan yang sedang menstruasi secara tradisi dilarang memasuki area pura sebagai bagian dari aturan kesucian tempat ibadah.

15. Membayar Utang saat Hari Raya Rainan Rambut Sedana

Membayar utang pada hari pemujaan Dewi Lakshmi ini dipercaya dapat membuat beban utang semakin bertambah.

16. Makan di Tengah Pintu

Makan atau duduk di ambang pintu diyakini dapat menghalangi perlintasan para dewa dan membawa aura negatif.

17. Menyapu Rumah di Malam Hari

Menyapu rumah ketika hari sudah gelap dipercaya dapat menyurutkan atau membuang rezeki penghuni rumah.

18. Mengambil Makanan Sisa Orang Lain yang Berbeda Kasta

Dalam masyarakat tradisional, larangan ini berkaitan dengan norma kesucian dan tata krama kasta yang berlaku pada masa lalu.

19. Berfoto dalam Jumlah Tiga Orang

Kepercayaan populer menyebutkan bahwa foto bertiga dapat mendatangkan musibah berupa kematian bagi salah satu orang dalam foto tersebut.

20. Keluyuran saat Siang Bolong dan Waktu Sandikala

Tengah hari dan masa peralihan sore menuju malam atau sandikala, sekitar pukul 18.00, dipercaya sebagai waktu ketika energi negatif dan makhluk halus beraktivitas.

21. Menyisakan Makanan saat Makan

Menyisakan makanan dipercaya dapat mempersulit datangnya rezeki. Dalam kepercayaan tertentu, kebiasaan tersebut bahkan dikaitkan dengan kematian ternak peliharaan.

22. Duduk di Atas Kursi Saat Hari Raya Pagerwesi

Khusus di wilayah Karangasem, terdapat kepercayaan lokal yang melarang masyarakat menggunakan kursi pada Hari Raya Pagerwesi.

23. Menyentuh Ayam Kejang atau Hendak Mati

Memegang ayam yang sedang kejang atau berada dalam kondisi sakaratul maut dipercaya dapat menyebabkan penyakit buyuten, yakni kondisi tubuh gemetar.

24. Menangisi Orang yang Meninggal Secara Berlebihan

Tangisan yang berlebihan ketika seseorang meninggal dipercaya dapat menghambat atau memperberat perjalanan roh almarhum menuju alam selanjutnya.

Beragam mitos Bali tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat masa lalu membangun aturan tidak tertulis untuk mengatur perilaku sehari-hari. Sebagian pantangan juga memiliki pesan moral, seperti menjaga sopan santun, menghormati tempat suci, menjaga kebersihan, hingga menghargai makanan.

Namun, pemaknaan terhadap mitos dan pantangan dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Karena itu, berbagai kepercayaan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks budaya dan tradisi masyarakat yang mewarisinya.

Di tengah perkembangan zaman, sebagian masyarakat masih mempertahankan pantangan tersebut sebagai bagian dari tradisi keluarga. Sementara generasi muda memiliki cara pandang yang lebih beragam dalam memahami makna di balik setiap larangan.

Pada akhirnya, pantangan adat Bali bukan sekadar daftar hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Di baliknya terdapat jejak pengetahuan lokal, nilai kesopanan, penghormatan terhadap alam dan tempat suci, serta cara masyarakat Bali menjaga keseimbangan kehidupan yang diwariskan lintas generasi.(NI 01)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال