Tumpek Uye, Ajaran Spiritual Menjaga Keharmonisan Alam dan Tanggung Jawab Manusia

Tumpek Uye dalam tradisi Hindu Bali mengajarkan tanggung jawab manusia menjaga kehidupan dan keharmonisan alam sesuai ajaran Lontar Sundarigama dan Bhagavad Gita.(Humas Buleleng)

BULELENG, Nusainsight.com - Tumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam tradisi Hindu Bali hingga Hindu Nusantara yang sarat nilai spiritual, etis, dan ekologis. Perayaan ini tidak sekadar dipahami sebagai hari memberi persembahan kepada binatang, tetapi mengandung ajaran mendalam tentang kesadaran hidup, tanggung jawab manusia, serta keharmonisan kosmis sebagaimana tertuang dalam sastra suci.

“Tumpek Uye (disebut juga Tumpek Kandang) dirayakan setiap 210 hari sekali dalam kalender Bali. Hari ini diperuntukkan untuk menghormati binatang, baik yang dipelihara maupun yang hidup bebas di alam.Tumpek Uye mengajarkan satu hal penting, manusia bukan penguasa mutlak alam, tetapi penjaga kehidupan,”ujar Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd selaku Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng dikonfirmasi, Kamis (5/2).

Irma menjelaskan, ajaran ini juga tertuang dalam Lontar Sundarigama sebagaimana dikaji I Nyoman Suarka dalam bukunya SUNDARIGAMA. Dalam lontar tersebut disebutkan: “Uye Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang ngaran, pakreti ring sarwa pasu, sato, mina, paksi, mwang patik wenang widhi-widananya.”

Artinya: “Pada hari Saniscara Kliwon Uye disebut Tumpek Kandang, sebagai hari suci (pakreti) bagi seluruh binatang berkaki empat, semua satwa, ikan, burung, serta makhluk hidup lainnya yang patut diperlakukan sesuai ketentuan dharma.”

Lebih lanjut, Irma menegaskan ajaran Tumpek Uye selaras dengan Kitab Suci Bhagavad Gita 5.18 yang menekankan kesetaraan pandangan terhadap seluruh makhluk hidup. “Tumpek Uye menegaskan bahwa manusia tidak berada di atas alam, melainkan di dalam sistem kehidupan yang saling bergantung. Ajaran ini sejalan dengan Kitab Suci Bhagavad Gita 5.18 yang berbunyi, “Vidya-vinaya-sampanne brahmane gavi hastini suni caiva sva-pake ca panditah sama-darsinah” paparnya.

Ia menambahkan, leluhur Nusantara memuliakan perayaan ini melalui ritus sesuai Desa, Kala, Patra. Tata upacara berfungsi sebagai pendidikan kesadaran spiritual, bukan sekadar formalitas. Kehadiran Sang Hyang Rare Angon juga erat dengan makna Tumpek Uye sebagai simbol Tuhan yang melindungi seluruh makhluk hidup.

“Sang Hyang Rare Angon” merupakan simbol Tuhan sebagai penggembala dan pelindungmakhluk hidup. Ia melambangkan aspek ilahi yang mengasuh, menjaga, dan melindungi kehidupan, khususnya makhluk-makhluk yang lemah dan tak bersuara. Pemujaan ini menegaskan bahwa Tuhan hadir tidak hanya di tempat suci, tetapi juga dalam relasi manusia dengan alam,”jelas Irma.

Irma menyimpulkan, Tumpek Uye dalam konsep Seva merupakan ajaran pelayanan tanpa pamrih. Manusia diajak merawat binatang, memberi makan, menjaga kesehatan, serta tidak menelantarkan kehidupan makhluk lain sebagai bentuk tanggung jawab etis.

“Inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Tumpek Uye menjadi pengingat bahwa semakin tinggi kesadaran manusia, semakin besar pula kewajibannya untuk melindungi kehidupan,”imbuhnya.

Di akhir, Irma mengingatkan bahwa kasih dan kesadaran harus berjalan beriringan agar manusia mampu hidup bijak dan tidak eksploitatif. “Mengasihi hewan bukan sekedar simbol ritual, melainkan wujud tanggung-jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam, menghormati kehidupan dan mengendalikan ego. Pada akhirnya, Tumpek Uye menjadi pengingat bahwa kasih sejati tidak selalu terlihat atau terdengar, tetapi terasa dalam kesadaran dan tanggung- jawab,”tutup Irma.(NI 01)


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال